BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Peningkatan mutu pendidikan nasional dalam arti ruang lingkup yang seluas luasnya merupakan titik berat pembangunan di bidang pendidikan dalam rangka mewujudkan mutu yang setinggi-tingginya. Pemerintah dan masyarakat tidak henti-bentinya mengadakan pembenahan terhadap lembaga penentu kemajuan pendidikan. Pendidikan fisika sebagai bagian dan sistim pendidikan nasional memegang peranan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Dalam upaya peningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan prestasi belajar peserta didik, tentu tidak lepas dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, seperti peserta didik, pengajar, sarana dan prasarana serta penilaian.
Fisika pada dasarnya adalah Ilmu Pengetahuan Alam yang cukup menarik, ditunjang lagi dengan perkembangan IPTEK yang semakin pesat saat ini semakin menempatkan mata pelajaran fisika menjadi salah satu mata pelajaran yang sangat penting. Fisika sebaga ilmu pendukung ilmu pengetahuan yang lain seperti tehnik. Di sekolah, pelajaran fisika diajarkan dengan tujuan untuk mempersiapkan siswa agar dapat menerapkan konsep-konsep fisika dalam kehidupan sehari-hari dengan melatih melakukan pengamatan, percobaan, berdiskusi dan mengambil kesimpulan dari kegiatan-kegiatan tersebut.Namun pada kenyataannya banyak siswa yang menganggap bahwa mata pelajaran fisika merupakan mata pelajaran yang sulit diterima karena selalu mengarah kepada perhitungan dan rumus-rumus.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang guru fisika di SMP N 30 Medan diperoleh bahwa hasil belajar yang tercapai pada umumnya masih kurang sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan Daftar Kumpulan Nilai (DKN) siswa kelas VII yang terdiri dari 4 kelas parallel dengan masing-masing kelas terdiri dari 42 orang, diperoleh nilai rata-rata fisika untuk semester I tahun pelajaran 2008/2009 hanya mencapai 65 untuk nilai penguasaan konsep dan 66,63 untuk penerapan.Hal ini diperkuat oleh M Pardede (2009) bahwa nilai rata- rata siswa pada semester I untuk tahun sebelumnya antara lain: 2007/2008 nilai rata- rata siswa 78,55 dan tahun sebelumnya 52,27.
Rendahnya hasil belajar fisika diatas disebabkan karena guru masih jarang melibatkan siswa secara aktif selama kegiatan belajar-mengajar, penggunaan konsep fisika yang kurang tepat, dan penggunaan laboratorium yang masih jarang.
Harus diakui selama ini hasil pendidikan hanya tampak dari kemampuan siswa menghafal fakta-fakta. Banyak siswa mampu menyajikan tingkat hafalan yang baik terhadap materi yang diterima siswa tersebut, tetapi siswa tersebut seringkali tidak memahami secara mendalam substansi materinya. Terlebih dalam pengajaran eksakta seperti fisika siswa cenderung menghafal rumus-rumus tanpa mengerti konsep dasar. Pelajaran fisika sebagai basis sains dan teknologi, disajikan dengan menonjolkan persamaan matematik daripada konsep fisika. Siswa lebih ditekankan agar dapat menjawab soal-soal ujian atau ulangan. Yang diutamakan adalah hasil bukan konsep. Akibatnya sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara yang dipelajari siswa dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan dan dimanfaatkan. Pada hal siswa sangat butuh memahami konsep-konsep yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan berpikir kreatif.
Untuk dapat menggerakkan minat dan motivasi belajar siswa dibutuhkan metode mengajar yang sesuai dengan pokok bahasan tertentu.Matode yang paling sering digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran adalah metode konvensional, dan kenyataan hasil belajar yang didapat siswa kurang optimal. Dalam metode konvensional proses belajar mengajar hanya didominasi oleh guru dan siswa kebanyakan diam, mendengarkan dan menulis sehingga siswa kurang mengerti dengan materi yang dijelaskan tersebut. Salah satu metode yang tepat untuk digunakan pada materi pokok kalor ialah metode demonstrasi, karena dalam metode demonstrasi tercipta interaksi antara siswa dengan siswa dan interaksi antara siswa dengan guru, sehingga mempengaruhi pencapaian hasil belajar yang lebih baik. Berdasarkan uraian- uraian tersebut, untuk mengetahui tingkat penguasaan konsep yang dialami oleh siswa perlu didakan penelitian.
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan dalam proses belajar mengajar fisika saat ini adalah siswa tidak dihadapkan langsung pada benda-benda serta gejala — gejala alam, tetapi dihadapkan pada buku-buku fisika. Selain itu kegiatan belajar-megajar yang kurang variatif juga turut menyebabkan rendahnya hasil belajar. Guru cenderung menggunakan metode ceramah. Hal ini dapat menimbulkan siswa kurang puas mengenal dan memahami matode pelajaran yang disajikan guru tersebut. Di dalam proses belajar-mengajar, guru harus memiliki strategi agar siswa dapat belajar secara efektif, efisien, mengena kepada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah harus menguasai teknik-teknik penyajian atau biasa disebut dengan metode mengajar.
Untuk itu peneliti mencoba menggunakan metode demonstrasi dalam mengajarkan materi pokok kalor. Hal ini didasarkan pada hasil penelitian (Taufik, 2000) yang menyimpulkan bahwa hasil belajar fisika pada pokok bahasan Suhu dan Kalor di SMU Swasta Gajah Mada Medan yang diajar dengan menggunakan metode demonstrasi lebih baik. Hal ini dibuktikan dengan perbedaan rata-rata pretes dan postes sebesar 6,33 (dikelas eksperirnen) dan 5,77 (di kelas kontrol). Dan juga pada hasil penelitian (Ester, 2003) yang menyimpulkan bahwa hasil belajar fisika pada pokok bahasan suhu di kelas VII Semester 1 SLTP Negeri Tigabinanga tahun ajaran 2007/2008 yang diajari dengan metode Ekspositori dan demonstrasi. Metode demonstrasi lebih baik yang dibuktikan dengan hasil perbedaan rata-rata pretes dan postes sebesar 65,5 (metode demonstrasi) dan 51,4 ( metode ekspositori).
Sehubungan dengan uraian diatas penulis ingin meneliti tentang ”Pengaruh Metode Demonstrasi Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok Kalor Di Kelas VII Semester I SMP N 30 Medan T.P.2009/2010”.

1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi ruang lingkup masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Penggunaan metode pembelajaran yang kurang bervariasi.
2. Siswa menganggap fisika sebagai pelajaran yang sulit dan membosankan.
3. Hasil belajar siswa untuk pelajaran fisika yang tidak optimal.
4. Penggunaan laboratorium
5. Pemahaman konsep fisika yang kurang tepat.

1.3. Batasan Masalah
Sehubungan dengan banyaknya permasalahan dan juga adanya keterbatasan kemampuan dari penulis sendiri, maka penulis membuat batasan masalah-masalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VII semester I SMP N 30 Medan.
2. Materi pokok yang diterapkan selama kegiatan belajar mengajar adalah Kalor.
3. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah ceramah, demonstrasi, tanya jawab, penugasan dan latihan.

1.4. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dalam penelitian ini masalah yang dikaji dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah hasil belajar fisika siswa yang diajar dengan metode demonstrasi pada materi pokok kalor di Kelas VII SMP N 30 Medan Semester I Tahun Ajaran 2009/2010?
2. Bagaimanakah hasil belajar fisika siswa yang diajar dengan metode konvensional pada materi pokok kalor di Kelas VII SMP N 30 Medan Semester I Tahun Ajaran 2009/2010?
3. Adakah pengaruh yang signifikan antara penggunaan metode demonstrasi terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok kalor di SMP N 30 Medan Semester I Kelas VII Tahun Ajaran 2009/2010?
1.5. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diajar dengan metode demonstrasi pada materi pokok kalor di Kelas VII Semester I SMP N 30 Medan Tahun Ajaran 2009/2010.
2. Untuk mengetahui hasil belajar siswa yang diajar dengan metode pembelajaran konvensional pada materi pokok kalor di kelas VII Semester I SMP N 30 Medan Tahun Ajaran 2009/2010.
3. Untuk mengetahui pengaruh metode demonstrasi terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok kalor di kelas VII Semester I SMP N 30 Medan Tahun Ajaran 2009/2010.

1.6. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah;
1. Sebagai bahan informasi bagi sekolah untuk mengetahui sejauh mana penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok kalor.
2. Sebagai sumbangan pemikiran bagi khasanah ilmu pengetahuan dan sebagai bahan perbandingan penelitian selanjutnya
3. Sebagai metode pembelajaran alternatif bagi guru fisika pada materi pokok kalor.
4. Memotivasi siswa dalam meningkatkan hasil belajar fisika.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Kerangka Teoritis
2.1.1. Pengertian Fisika
Fisika merupakan salah satu disiplin ilmu yang berkembang sangat pesat, baik materi maupun kegunaannya dan perkembangan ini tentu tidak terlepas dari kaitannya dengan bidang-bidang ilmu pengetahuan lainnya. Fisika juga merupakan ilmu pengetahuan alam (sains) yang mambahas gejala-gejala dan perilaku alam, yang dapat diamati oleh manusia.
Sifat ingin tahu anak didik perlu dirangsang, ditumbuhkan dan dipelihara sebaik-baiknya karena fisika merupakan ilmu pengetahuan eksperimental, maka dengan melakukan percobaan siswa tidak hanya memahami dan menguasai konsep, teori, asal dan hukum fisika tetapi ia juga menerapkan metode ilmiah dan mengembangkan sikap ilmiah.
Manusia selalu ingin tahu tentang banyak hal,termasuk tentang alam. Pada mulanya manusia mencoba menjelaskan alam dengan mitos. Namun akhirnya usaha manusia untuk menjelaskan alam diambil alih oleh metode ilmiah, suatu metode yang menggabungkan kemampuan nalar dan eksperimen. Fisika adalah salah satu metode ilmiah tersebut, fisika mempelajari segala sesuatu tentang alam dari mulai partikel yang sangat kecil yang berukuran sepersejuta meter hingga alam semesta dengan skala juta kilometer .

2.1.2. Pengertian belajar
“Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagi hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”(Slameto, 2003: 2)
Didalam kelas terdapat proses belajar mengajar. Belajar, perkembangan dan pendidikan merupakan hal yang menarik dipelajari. Ketiga gejala tersebut terkait dengan pembelajaran. Belajar dilakukan oleh siswa secara individu. Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang eksplisit maupun inplisit.
Menurut Robert M.Gagne (1970) belajar merupakan kegiatan yang kompleks, dan hasil belajar berupa kapabilitas, timbulnya kapabilitas disebabkan:
- Stimulasi yang berasal dari lingkungan
- Proses kognitif yang dilakukan oleh pelajar.
Ada tiga komponen penting belajar yakni kondisi eksternal yaitu stimulus dari lingkungan dalam acara belajar, kondisi internal yang menggambarkan keadaan internal dan proses kognitif siswa, dan hasil balajar yang menggambarkan informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap, dan siasat kognitif.
Menurut Gagne ada tiga tahap dalam belajar yaitu:
1. Persiapan untuk belajar dengan melakukan tindakam mengarahkan perhatian, pengharapan, dan mendapatkan kembali informasi
2. Pemerolehan dan unjuk perbuatan (performansi) digunakan untuk persepsi selektif, sandi semantik, pembangkitan kembali, respon dan penguatan
3. Alih belajar, yaitu pengisyaratan untuk membangkitkan dan memberlakukan secara umum (Dimyanti dan Mudjiono, 1999: 12)
Tindakan belajar hanya dialami oleh siswa sendiri, berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan amat tergantung pada proses belajar dan mengajar yang dialami siwa dan pendidik baik ketika para siswa itu di sekolah maupun di lingkungan keluarga sendiri.
Hilgard dan Marquis berpendapat bahwa belajar merupakan proses mencari ilmu yang terjadi dalam diri seseorang melalui latihan, pembelajaran dan sebagainya sehingga terjadi perubahan dalam diri.gagasan yang menyatakan bahwa belajar menyangkut perubahan dalam suatu organisma, berarti belajar juga membutuhkan waktu dan tempat. Belajar disimpulkan terjadi, bila tampak tanda-tanda bahasa perilaku manusia berubah sebagai akibat terjadinya proses pembelajaran..proses lain yang menghasilkan perubahan perilaku, yang tidak termasuk belajar kematangan, yaitu perubahan perilaku disebabkan oleh pertumbuhan dan perkembangan dari organisma-organisma secara fisiologis. Pemikiran tentang belajar mengacu pada proses:
Belajar tidak hanya sekedar menghafal, siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri: a)Anak belajar dari mengalami, anak mencatat sendiri pola-pola bermakan dari pengetahuan baru dan bukan diberi begitu saja oleh guru,b) Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang suatu persoalan, c) Pengetahuan tidak bisa dipisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisis yang terpisah tetapi mencerminkan keterampilan yang diterapkan, d) Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi sesuatu, e) iswa perlu dibiasakan memecahkan masalah menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide, f) Proses belajar dapat mengubah stuktur otak yang berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang.
Setiap perilaku belajar selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan yang spesifik antara lain seperti dikemukakan berikut ini, a) Belajar menyebabkan perubahan pada aspek-aspek kepribadian yang berfungsi terus menerus, yang berpengaruh pada proses belajar selanjutnya, b)Belajar hanya terjadi melalui pengalaman yang bersifat individual, c) Belajar merupakan kegiatan yang bertujuan, yaitu arah yang ingin dicapai melalui proses belajar, d) Belajar menghasilkan perubahan yang menyeluruh, melibatkan keseluruhan tingkah laku secara integral, e) Belajar adalah proses interaksi, f) Belajar berlangsung dari yang paling sederhana sampai pada kompleks.
Dari uraian diatas tergambar dengan jelas bahwa proses belajar yang dilakukan oleh siswa merupakan aktifitas yang kompleks yang berkaitan dengan masalah-masalah praktis yang bersumber dalam diri siswa tersebut dan diluar dirinya. Demikian juga dalam proses belajar mengajar fisika banyak faktor yang mempengaruhi baik siswa maupun gurunya sendiri.
Untuk mencapai tujuan itu, tidak cukup guru hanya berceramah dari menit pertama sampai menit terakhir pada setiap kegiatan belajar mengajar (KBM). Tetapi siswa perlu dilibatkan secara aktif untuk menemukan konsep-konsep fisika menurut kemampuannya sendiri. Oleh sebab itu, peranan guru dalam pengorganisasian belajar dan menentukan pendekatan pembelajaran akan menentukan apakah siswa telah belajar atau belum belajar.

2.1.3.Hasil Belajar
Untuk mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan dapat dilihat dari hasil belajar siswa, yang umunya diperoleh dari hasil belajar berupa tes yang diberikan kepada siswa yang telah mendapat pengajaran.
Melalui proses mengajar seseorang akan mengalami perubahan dalam tingkah lakunya yaitu sebagai hasil belajar yang dilakukannya. Perubahan tingkah laku yang terjadi dalam diri seseorang melalui belajarnya disebut hasil belajar. Hasil belajar dalam bentuk perubahan tingkah laku tersebut akan terjadi bila ia melakukan suatu kegiatan belajar dalam waktu tertentu.
Hasil belajar adalah tingkat pencapaian siswa atas tujuan instruksional yang diterapkan dan tercermin dari kepribadian siswa berupa perubahan tingkah laku setelah mengalami proses belajar. Hasil belajar yang dimaksud dalam hal ini adalah hasil belajar fisika. Guru sebagai pengelola proses belajar mengajar harus mampu menciptakan strategi yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Untuk mengukur pencapaian tujuan kegiatan belajar yang mencerminkan perubahan tingkah laku, kecakapan dan status pelajar dalam menelaah materi belajar pada jangka waktu tertentu menggunakan evaluasi hasil belajar.
Menurut Daryanto, (2001:11) menyatakan bahwa “ evaluasi dalam proses belajar mengajar adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa, sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya”. Jadi evaluasi ditujukan untuk menilai sampa dimana tujuan pengajaran telah dicapai baik dari segi siswa maupun dari segi guru. Dengan demikian guru memperoleh gambaran dalam menentukan langkah-langkah untuk mencapai tujuan kegiatan belajar.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang terjadi dalam diri seseorang yang ditempuh melalui usaha belajar dan dilakukan dalam batas-batas tertentu.

2.2. Metode Demonstrasi
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir (Syaiful Bahri Djamarah, 1991: 72 )
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak harus terpaku dengan menggunakan satu metode, tetapi guru sebaiknya menggunakan metode yang bervariasi agar jalannya pengajaran tidak membosankan, tetapi menarik perhatian anak didik.Tetapi penggunaan metode yang bervariasi tidak akan menguntungkan kegiatan belajar bila penggunaannya tidak tepat dan tidak didukung oleh situasi serta kondisi psikologis anak didik ( Syaiful Bahri Djamarah, 2006: 46)
Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik sebenarnya maupun tiruan yang sering disertai dengan penjelasan lisan.

2.2.1. Kelebihan metode demonstrasi
Sebagai suatu metode pembelajaran, metode demonstrasi memiliki beberapa kelebihan (Sanjaya,2006: 152 ), diantaranya:
• Melalui metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa disuruh langsung memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.
• Proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
• Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan. Dengan demikian siswa akan lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran.

2.2.2. Kelemahan metode demonstrasi
Di samping beberapa kelebihan, metode demonstrasi juga memiliki kelemahan (Sanjaya,2006: 152 ), diantaranya:
• Metode ini memerlukan persiapan yang lebih matang sebab tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi.
• Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan- bahan dan tempat yang memadai yang berarti penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibanding dengan ceramah.
• Demonstrasi memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang disamping memerlukan waktu yang cukup panjang , yang mungkin terpaksa menggunakan jam pelalajaran bidang studi lain.

2.2.3. Syarat menggunakan metode demonstrasi
Adapun hal- hal yang dipenuhi agar metode demonstrasi berjalan dengan baik yaitu :
1. Materi yang diajarkan berhubungan dengan proses mengatur sesuatu, proses membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, proses mengerjakan atau menggunakan, komponen- komponen yang membentuk sesuatu, dan melihat suatu kebenaran ( Djamarah, 2006: 92)
2. Peralatan untuk demonstrasi mudah didapat dan tidak memakan tempat
3. Siswa harus bisa menjangkau jalannya demonstrasi ( http://worldpress.com.)

2.2.4. Langkah- langkah Menggunakan Metode Demonstrasi :
Menurut Sanjaya ( 2006: 153 ) ada beberapa tahap melaksanakan demonstrasi antara lain :
1. Tahap Persiapan
• Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah proses demonstrasi berakhir. Tujuan ini meliputi beberapa aspek seperti aspek pengetahuan, sikap, atau keterampilan tertentu.
• Persiapkan garis besar langkah- langkah demonstrasi yang akan dilakukan. Garis- garis besar langkah demonstrasi diperlukan sebagai panduan untuk menghindari kegagalan.
• Lakukan uji coba demonstrasi. Uji coba meliputi segala peralatan yang diperlukan.
2. Tahap pelaksanaan
a) Langkah Pembukaan
Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain :
• Aturlah tempat duduk yang memungkinkan semua siswa dapat memperhatikan dengan jelas apa yang didemonstrasikan.
• Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai siswa
• Kemukakan tugas apa yang harus dicapai oleh siswa
• Kemukakan tugas- tugas yang harus dilakukan oleh siswa, misalnya siswa ditugaskan mencatat hal- hal yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi.
b) Langkah pelaksanaan demostrasi.
• Mulailah demonstrasi dengan kegiatan kegiatan yang merangsang siswa untuk berpikir, misalnya melalui pertanyaan – pertanyaan yang mengandung teka- teki sehingga mendorong siswa untuk tertarik memperhatikan demonstrasi.
• Ciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindarkan suasana yang menegangkan
• Yakinkan bahwa semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan memperhatikan reaksi seluruh siswa
c) Langkah mengakhiri demonstrasi.
Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu diakhiri dengan memberikan tugas- tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini diperlukan untuk meyakinkan apakah siswa memahami proses demonstrasi itu atau tidak.
2.2.5. Metode Pembelajaran Konvensional.
Pembelajaran konvensional adalah metode pembelajaran yang berawal dari pengenalan konsep hingga penjabaran rumus dari guru kepada siswa, setelah dikenalkan dengan konsep, siswa lalu diberi latihan oleh guru.
Kegiatan guru terutama adalah memberikan penjelasan didepan kelas dan mengadakan tanya jawab serta memberikan contoh pemecahan masalah. Disiplin kelas sangat diutamakan dan guru mempunyai wewenang penuh dalam kelas. Hubungan guru dengan siswa lebih kaku, sebab guru dianggap sebagai tokoh yang harus ditiru dalam segalanya, pembelajaran konvensional mengarahkan siswa sesuai dengan interaksi yang diinginkan guru.
Dalam pembelajaran konvensional siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif. Ini berarti dalam pembelajaran konvensional tugas guru seolah-olah memindahkan sebagian pengetahuan yang ada padanya kepada siswa supaya siswa memiliki kemampuan yang sama.
Tahap-tahap pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran konvensional adalah sebagai berikut:
1. Tahap ini pada umumnya dengan metode ceramah, guru menjelaskan materi pelajaran yang sedang dipelajari, komunikasi yang terjadi adalah satu arah sehingga siswa pasif karena banyak menerima penjelasan dari guru.
2. Pada tahap ini setelah menjelaskan materi, guru memberikan contoh soal yang berkaitan dengan materi tersebut sehingga siswa lebih paham lagi mengenai materi tersebut.
3. Pada tahap terakhir ini, guru memberikan tugas pada siswa yaitu untuk mengerjakan soal-soal yang ada pada buku paket mereka yang kemudian ditindak lanjuti dengan pembahasan dan pemberian nilai pada tugas yang telah dikerjakan siswa.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran secara konvensional mempunyai urutan sebagai berikut yaitu persiapan yang dilakukan oleh guru, penjelasan (ceramah), pemberian latihan dan evaluasi atau umpan balik. Pembelajaran seperti yang dijelaskan diatas masih terlihat di tempat dimana peneliti akan melakukan penelitian.

2.3. Materi Pembelajaran
2.3.1. Pengertian Kalor
Kalor adalah energi yang diterima atau dilepaskan suatu benda sehingga suhu benda tersebut naik ( turun ) atau wujudnya berubah.
Satuan kalor yang biasa digunakan untuk bahan makanan disebut kalori (kal). Satuan kalor ialah banyaknya kalor yang diperlukan untuk memanaskan 1 g air agar suhunya naik 1 0C.
Karena kalor termasuk energi, satuan kalor bisa juga dinyatakan dengan joule (J). Hubungan kalori dengan joule adalah :
1 Kalori = 4, 2 J
Dari hasil percobaan yang dilakukan jelas terlihat bahwa ada hubungan antara besarnya kalor Q , kenaikan suhu ∆t dan massa air m.

Q = m c ∆t ……………………………………………………..(1)
Dengan :
Q = jumlah kalor yang digunakan( kalori atau joule )
m = Massa benda ( Kg)
∆t = perubahan suhu ( 0C )
c = kalor jenis ( J/Kg 0C )

Asas Black
Jika kita ingin mendiginkan secangkir air panas maka suatu cara yang sederhana adalah kita menuangkan es keatas air panas tersebut dan akhimya campuran air panas dan dingin berubah menjadi hangat. Sehingga seorang ahli
fisika yang melakukan percobaan ini menemukan suatu hukum yang dinamakan Asas Black sesuai dengan penemunya Joseph Black. Bunyi dan Asas Black adalah Kalor lepas sama besarnya dengan Kalor terima.
Qlepas = Qterima
Jika dua jenis zat digabungkan maka suhu kedua zat akan bergabung, dimana suhu yang paling tinggi akan melepas kalor dan suhu yang rendah akan menyerap kalor.
Kalor jenis dan kapasitas kalor
Kalor jenis didefenisikan sebagai banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu satu satuan mas benda sebesar 10C.
Selain kalor jenis, dikenal pula istilah kapasitas kalor.Kapasitas kalor C didefenisikan sebagai banyaknya kalor yang diperlukan m gram benda agar suhunya naik 10C. Kapasitas kalor C dirumuskan sebagai :

C=
C= m c …………………………………………………………………(2)
Dengan : C = Kapasitas kalor (kal/0C atau Joule/ 0C)
Q = Jumlah kalor yang digunakan( kalori atau joule )
m =Massa benda ( gram)

2.3.2. Kalor dapat mengubah wujud benda
a.Perubahan wujud padat menjadi gas dan sebaliknya gas menjadi padat
Benda berwujud padat bisa langsung berubah menjadi gas pada suhu kamar tanpa mengalami wujud cair terlebih dahulu. Contoh : yodium, kapur barus, dan naftalin. Sebaliknya gas ( uap) dapat didinginkan langsung jadi padat tanpa mengalami wujud cair terlebih dahulu. Contohnya salju diatmosfer

b.Perubahan wujud padat menjadi cair dan sebaliknya
ketika lilin yang sedang menyala, bagian lilin dibawah api akan mencai dan mengalir kebawah melalui batang lilin . sebelum sampai kedasar lilin, bagian lilin yang mencair tersebut akan membeku kembali dan menempel ke batang lilin yang masih padat. Hal ini menunjukkan bahwa zat padat menjadi cair bila dipanaskan. Sebaliknya zat cair menzadi padat bila didinginkan.

c.Perubahan wujud cair menjadi gas dan sebaliknya
Benda cair akan menjadi gas bila dipanaskan. Peristiwa perubahan wujud cair menjadi gas dan sebaliknya , dapat kita amati pada penguapan air laut. Energi panas matahari menyebabkan air laut menguap ke udara. Di udara, uap air menjadi titik- titik air yang selanjutnya menjadi hujan.

2.3.3. Penguapan
Penguapan ialah perubahan wujud dari cair menjadi gas. Pada waktu menguap, zat memerlukan kalor. Penguapan dapat dipercepat dengan cara sebagai berikut :
• Memanaskan zat cair
• Memperbesar luas permukaan zat cair
• Mengalirkan udara kering disekitar permukaan zat cair
• Mengurangi tekanan uap di permukaan zat cair
Molekul- molekul zat cair tidak dapat meninggalkan zat cair begitu saja, sebab dihalang halangi oleh lapisan permukaan zat cair. Apabila jumlah molekul yang dapat menerobos lapisan permukaan zat cair tersebut banyak, maka zat cair dikatakan menguap.
Ketika zat cair dipanaskan, kecepatan molekul molekulnya bertambah besar. Oleh karena itu molekul yang meninggalkan zat cair lebih banyak . Bila permukaan zat cair diperluas, berarti lebih banyak kesempatan molekulnya untuk meninggalkan permukaan zat cair.
Dengan meniupkan udara diatas permukaan zat cair, molekul- molekul yang ada ditempat itu disingkirkan . Semakin banyak udara yang kita tiupkan, semakin banyak molekul yang meninggalkan permukaan zat cair. Penguapan juga bisa dipercepat bila tekanan diatas zat cair diperkecil. Dengan demikian molekul- molekul lebih mudah meninggalkan permukaan zat cair.

Menguap dan mengembun
Ketika zat cair mendidih, suhu zat itu tetap meskipun kalor diberikan terus- menerus. Suhu zat cair ketika mendidih disebut titik didih. Banyaknya kalor yang diperlukan untuk mengubah satu satuan massa zat cair supaya menjadi uap semua disebut kalor uap.
Kalor yang diperlukan untuk menguapkan zat pada titik didihnya dirumuskan sebagai :

Q= m U …………………………………………………………………(3)
Dengan : m= massa zat ( gram atau kg)
U= kalor uap ( kal/g atau J/Kg)
Q= Jumlah kalor ( kalori atau J)
Proses kebalikan dari penguapan disebut pengembunan. Pada saat mengembun, Suhu zat selalu tetap meskipun kalor dilepaskan secara terus menerus. Banyaknya kalor yang dilepaskan satu satuan massa uap ketika berubah seluruhnya menjadi zat cair disebut kalor embun. Berdasarkan percobaan yang dilakukan ilmuwan didapat :

Kalor uap = kalor embun
Mendidih
Mendidih berbeda dengan penguapan. Penguapan hanya terjadi di permukaan zat cair dan berlangsung pada berbagai suhu. Mendidih merupakan proses penguapan yang terjadi pada seluruh bagian zat cair. Selain itu, mendidih hanya terjadi suhu dan tekanan tertentu.
Sebuah labu kaca yang berisi air diletakkan di atas nyala api. Mula-mula dinding labu kaca menjadi buram karena ada uap air yang mengembun pada dinding labu. Ketika suhu naik, gelembung udara naik ke permukaan zat cair dan menghilang. Pada suhu tertentu, penguapan tidak hanya terjadi di permukaan zat cair tetapi terjadi di seluruh zat cair. Peristiwa ini disebut mendidih.
Proses pemanasan air ini diperlihatkan dengan grafik seperti tampak pada Gambar 5.Suhu air terus meningkat selama pemanasan berlangsung. Pada suhu 100°C muncul gelembung uap air yang pertama. Suhu ini terus bertahan hingga seluruh air berubah menjadi uap air. Selama proses ini kalor yang diberikan tidak digunakan untuk menaikkan suhu air, tetapi digunakan untuk mengubah wujud air menjadi uap air.
Suhu ketika zat cair berubah wujud menjadi gas (uap air) disebut titik didih. Dengan kata lain, suhu ketika zat cair mendidih disebut titik didih.

Melebur dan membeku
Pada waktu melebur, suhu es tidak berubah meskipun kalor tetap diberikan. Suhu ketika es ( zat padat ) berubah menjadi zat cair disebut titik lebur. Untuk meleburkan zat padat, tentu memerlukan kalor. Banyaknya kalor yang diperlukan untuk satu satu satuan massa zat padat menjadi cair pada titik leburnya disebut kalor lebur.Kalor lebur hanya untuk memperbesar jarak antar molekul zat padat sewaktu mencair, bukan untuk menaikkan suhu zat. Jadi, kalor lebur termasuk kalor laten yang tersimpan sebagai energi potensial molekul zat itu.
Ketika zat cair berubah menjadi zat padat ,terjadi pelepasan kalor. Banyaknya kalor yang dilepaskan ketika satu satuan massa zat cair berubah menjadi zat padat pada titik bekunya dinamakan kalor beku. Adapun suhu ketika zat cair berubah menjadi zat padat disebut titik beku.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan didapati bahwa kalor beku sama dengan kalor lebur.
Q= m l …………………………………………………………………………(4)
Dengan m menyatakan massa zat dan l menyatakan kalor lebur.Satuan kalor lebur adalah kal/ g atau J/ Kg

2.3.4. Perpindahan Kalor
Kalor berpindah dan benda yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah.
Perpindahan kalor terdiri dari : Konduksi, konveksi, Radiasi.

a. Perpindahan Kalor secara Konduksi
Perpindahan Kalor secara konduksi adalah Perpindahan kalor tanpa disertai oleh perpindahan partikel-partikelnya. Salah satu contohnya adalah dengan memanaskan ujung sebuah sendok maka dalam beberapa waktu ujlmg sendok yang lain akan terasa panas. Kemampuan benda menghantar panas dibagi atas : Konduktor, semi konduktor dan Isolator. Konduktor adalah penghantar panas yang baik, contohnya baja, besi, tembaga, dan sebagainya. Isolator adalah penghantar panas yang buruk, contohnya karet, plastik, kayu, dan sebagainya.

b. Perpindahan Kalor secara Konveksi
Perpindahan kalor secara konveksi adalah perpindahan yang disertai dengan perpindahan partikel-partikel zat di dalam fluida itu sendiri. Salah satu contohnya adalah Konveksi yang terjadi pada saat kita memasak air maka akan terlihat air pada bagian bawah akan naik ke bagian atas karena perbedaan suhu.

c. Perpindahan kalor secara Radiasi
Perpindahan kalor secara radiasi adalah perpindahan kalor tanpa zat perantara. Contohnya adalah sinar matahari yang sampai kebumi.

2.4. Penelitian Terdahulu
Penelitian ini sudah dilakukan oleh beberapa peneliti seperti yang tercantum di latar belakang masalah. Selain itu ada juga beberapa orang peneliti lain yang meneliti metode demonstrasi antara lain:
Table 2.1. Penelitian terdahulu
NO NAMA TAHUN JUDUL
1 Roi Darma
01310335 2006 Perbedaan Hasil Belajar Siswa Antara Metode Demonstrasi Dengan Metode Konvensional Pada Materi Pokok Energi Kelas VII Semester II SMP Musda Medan TA 2005/2006

2 Marini S
031011270 2007 Perbedaan Hasil Belajar Siswa Degan Metode Demonstrasi Dan Meode Konvensional Pada Materi Pokok Zat Dan Wujudnya Di Kelas VII Semester I SMP N 1 Siborongborong TA 2007/2008
3 Tri Susi Rahmadani
03311430 2007 Perbedaan Hasi Belajar Siswa Yang Menggunakan Metode eksperimen Dengan Metode demonstrasi di SMA swasta Kartika Medan

Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang dilaksanakan sebelumnya adalah, pada peneliti sebelumnya penerapan metode demonstrasi dilakukan di SMA dan penelitian sebelumnya melihat perbedaan metode demonstrasi dengan metode yang lain. Penelitian sebelumnya dilakukan juga di SMP tapi lokasinya beda dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti.
Pada penelitian ini bermaksud untuk melihat pengaruh metode demonstrasi terhadap hasil belajar siswa dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan metode pembelajaran konvensional (Pembelajaran yang biasa dilakukan di sekolah tempat penelitian). Dan penelitian yang dilakukan ini mencoba mengatasi kelemahan- kelemahan penelitian terdahulu.

2.5. Kerangka Berpikir
Selama ini para guru sebagai tenaga pengajar, didalam menyampaikan materi pelajaran terkadang hanya terfokus kepada metoda konvensional saja, dimana guru mengadakan ceramah tentang suatu materi palajaran dan siswa mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru. Hal ini mengakibatkan situasi belajar kurang efisien, karena terkadang siswa merasa bosan mendengarkan ceramah guru karena dalam metode ini interaksi antara guru dengan siswa kurang. Berdasarkan penelitian para ahli menyatakan bahwa metode yang bervariasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Jadi perlu diadakan pembelajaran dengan metode yang bervariasi, salah satunya metode demonstrasi.
Langkah awal dalam penelitian ini adalah pelaksanaan pretes yang bertujuan untuk melihat keadaan awal kedua kelas sampel sebelum pembelajaran dilaksanakan. Dari hasil pretes rata-rata nilai kelas kontrol dan rata-rata nilai kelas eksperimen dihitung. Syarat awal yang harus terpenuhi supaya pembelajaran dapat dilaksanakan adalah keadaan awal kedua kelas sampel haruslah sama. Untuk keadaan awal yang sama, maka pembelajaran dapat dilanjutkan. Kelas kontrol yaitu kelas yang akan diajar tanpa menerapkan metode demonstrasi dan kelas eksperimen yaitu kelas yang akan diajar dengan menggunakan metode demonstrasi .
Untuk melihat hasil belajar kedua kelas sampel maka dilakukan postes. Dari hasil postes dihitung nilai rata-rata kelas control dan nilai rata-rata kelas eksperimen. Apabila nilai rata-rata kelas eksperimen berbeda dibanding nilai rata-rata kelas kontrol maka dapat disimpulkan bahwa metode demonstrasi berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
2.6. Hipotesis
Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: “Ada pengaruh hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan metode demonstrasi terhadap hasi belajar siswa pada materi pokok kalor di SMP N 30 Medan Semester I Kelas VII Tahun Ajaran 2009/2010.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP N 30 Medan, Jl. Keluarga No.10. Asam Kumbang Medan Selayang 20132.Telp 8215450.
Waktu penelitian dilakukan pada semester I tahun ajaran 2009/2010.

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian
Dalam penelitian ini populasi adalah seluruh siswa kelas VII SMP N 30 Medan
Dari delapan kelas, yang menjadi sampel penelitian ini adalah dua kelas yaitu VIIA dan kelas VIIB dengan jumlah siswa masing-masing 35 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara cluster random sampling .

3.3 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis yaitu
1. Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode demonstrasi serta pembelajaran konvensional.
2. Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada materi pokok kalor.

3.4. Desain Penelitian
Penelitian ini melibatkan dua kelas yang diberi perlakuan yang berbeda. Untuk mengetahui hasil belajar fisika siswa yang diperoleh dengan penerapan dua perlakuan tersebut pada siswa diberikan tes. Tes yang diberikan yaitu pretes sebelum perlakuan dan postes setelah perlakuan.rancangan penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.